Jumat, 14 November 2014

Cerita Kehidupan di Danau Titicaca, Danau Tertinggi di Dunia

Tidak ada yang tau pasti asal-usul nama “Titicaca” bisa melekat untuk menyebut danau ini, karena bila diartikan kata “Titicaca” mempunyai arti “Batu Puma” atau bisa diartikan “Curah Timah Hitam” jika melihat dari artinya sendiri sebenarnya tidak berkaitan dengan hal apapun pada danau ini. Terlepas dari itu, satu hal yang pasti danau Titicaca adalah danau tertinggi di dunia. Dengan berada di ketinggian 3.821 m di atas permukaan laut menjadikan danau Titicaca sebagai danau tertinggi di dunia.

Selain terkenal sebagai danau tertinggi di dunia, danau yang terletak di perbatasan antara Peru dan Bolivia ini juga merupakan danau terbesar di kawasan Amerika Selatan dengan luas 8300 kilometer persegi dan memiliki kedalaman air rata-rata 140 m dan 180. Secara lebih tepat, posisi danau Titicaca ini berdekatan dengan pegunungan Andes selaku pengunungan terpanjang di dunia. Bisa dibayangkan betapa dingin suasana disekitar danau, menurut informasi suhu kedinginan sekitar danau mencapai 10-14 derajat celcius

Meskipun berada pada dataran yang sangat tinggi dan bersuhu dingin pula, bukan berarti keadaan di sekitar danau menjadi sepi penduduk. Justru danau ini dijadikan tempat bagi suku Uros selaku penduduk asli ditempat itu untuk mendirikan bangunan rumah yang membentuk pulau-pulau apung di atas air danau Titicaca. Uniknya, bangunan rumah yang berbentuk seperti tenda ini dibuat dan disusun menggunakan ilalang yang banyak tumbuh di sekitar danau, mulai dari alasnya, pondasi sampai atap rumahnya semua berbahan dasar ilalang. Sekilas bangunan-bangunan rumah itu tampak seperti bumi perkemahan.


Gambar 1. Desa terapung di danau Titicaca

Untuk menghindari bangunan rumah itu terbawa arus, maka lapisan-lapisan rumput ilalang dijadikan satu dan diikatkan pada tali panjang sebagai jangkar penambat di dasar danau. Setiap enam bulan sekali mereka harus membuat bangunan rumah yang baru dengan mengganti ilalang yang sudah lama yang telah rusak dan busuk.

Cara Penduduk asli (suku uros) dalam memanfaatkan ilalang yang ada untuk digunakan sebagai bangunan rumah itu menjadi pemandangan yang menakjukban dari danau Titicaca. Hal itu pun menjadi daya tarik kepada para wisatawan yang merasa penasaran melihat cara hidup suku Uros tersebut. Menurut data, setiap tahunnya ada 200.000 wisatawan datang mengunjungi danau Titicaca ini.

Para wisatawan yang berkunjung ke danau ini tidak akan menyia-nyiakan untuk merasakan sensasi berjalan di atas air danau yang beralaskan tumpukan-tumpukan ilalang. Bahkan para wisatawan juga bisa mencoba mengelilingi danau dengan menggunakan perahu-perahu unik yang dibuat oleh suku Uros yang ternyata juga berbahan dasar ilalang. Memang suku Uros dikenal memiliki keahlian dalam menghasilkan berbagai macam kerajinan dari ilalang tersebut, biasanya kerajinan itu nantinya akan dijual sebagai suvenir bagi para wisatawan yang datang.


Gambar 2. Desa terapung di danau Titicaca

Di atas air danau Titicaca, ada sekitar 44 pulau yang dibangun oleh penduduk Uros. Setiap pulau (desa) biasanya terdiri atas 8 kepala keluarga. Para penduduk Uros sangat menggantungkan hidupnya dari danau Titicaca yakni sebagai nelayan. Ada sebuah legenda yang menyebut asal muasal penduduk ulas bertempat tinggal di danau Titicaca ini adalah sebagai bentuk pelarian dan perlindungan atas peperangan yang saat itu terjadi.

Sedangkan para ahli antropolog memperkirakan, mengapa mereka lebih memilih membuat daratan di atas danau, kemungkinan besar dikarenakan persaingan ketat dengan suku-suku lainnya kala itu sehingga mereka tidak mendapat wilayah daratan sebagai tempat berlindung dan memutuskan membuat daratan di atas danau.

Karena cukup lama bertahan di danau Titicaca, mereka lantas menjadikan danau Titicaca sebagai tempat tinggal tetap. Para penduduk ulos tidak hanya mengambil manfaat dari danau Titicaca, melainkan mereka juga sangat menjaga dan melindungi kelestarian danau Titicaca, salah satu caranya dengan membatasi diri dengan para pengunjung yang berdatangan. Mereka khawatir dengan banyaknya pihak luar yang berbaur dengan warga setempat, maka akan menghilangkan secara perlahan budaya dan tradisi leluhur yang selama ini mereka terapkan dalam menjalani kehidupan.


Gambar 3. Pulau terapung danau Titicaca

Oleh : Roma Doni
(Kirim pesan ke penulis)

Sumber Gambar :
1. http://informasiseru.blogspot.com/2011/09/desa-terapung-di-danau-titicaca.html
2. http://informasiseru.blogspot.com/2011/09/desa-terapung-di-danau-titicaca.html
3. http://dogfirefly.blogspot.com/2012/07/pulau-terapung-danau-titicaca.html
Sumber Referensi :
http://id.wikipedia.org/wiki/Danau_Titicaca
http://travel.detik.com/read/2012/06/04/145300/1932216/1025/keren-ada-pulau-dibuat-dari-alang-alang-di-danau-titicaca
http://informasiseru.blogspot.com/2011/09/desa-terapung-di-danau-titicaca.html
http://dogfirefly.blogspot.com/2012/07/pulau-terapung-danau-titicaca.html


Related Posts :